SCORE Plus UNPAR Mendorong Pelaku UMKM Lebih Berdaya Guna

“Wah, mantep pisan yah! Jadi materinya tu memang yang betul-betul kita butuhkan, khususnya saya. Jadi ada perubahan, ada perbaikan, dan jadi tambah semangat usahanya,” ujar Iyank Ega Sukadirdja lugas. Pernyataan tersebut adalah kesan yang ia berikan setelah dirinya menjadi peserta Progam SCORE Plus Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) Bandung. Ega atau yang lebih akrab disapa Abah ini adalah satu dari empat puluh peserta pelatihan SCORE Plus yang diselenggarakan oleh Progam Studi Sarjana Manajemen Fakultas Ekonomi UNPAR.

Tahun 2017 ini adalah kali kedua UNPAR menggelar SCORE, setelah pada tahun sebelumnya menggelar program yang sama dengan sasaran utama para pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM). SCORE yang merupakan singkatan dari Sustaining Competitive and Responsible Enterprises ini adalah program yang diinisiasi oleh salah satu lembaga di dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa, International Labor Organization. Lalu oleh BEDO (Business & Export Development Organization) sebagai lembaga non-profit dengan misi mengembangkan industri kecil menengah dan jejaring di Indonesia, SCORE kemudian dikembangkan menjadi SCORE Plus.

Kata “Plus” ditambahkan setelah “SCORE” karena program ini lebih ditujukan kepada pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan skala produksi yang lebih kecil dan jumlah pekerja kurang dari 20 orang. Prodi Sarjana Manajemen UNPAR bekerja sama dengan Paguyuban Pengusaha Kecil dan Menengah Kabupaten Bandung serta Dinas Koperasi UKM Kabupaten Bandung menjaring setidaknya 40 pelaku UMKM untuk mengikuti SCORE Plus tahun ini.

Dimulai dengan sosialisasi program pada Juli 2017 lalu, SCORE Plus UNPAR dilanjutkan dengan workshop sebanyak tiga kali, di mana workshop terakhir digelar pada Senin, 4 September 2017. Dari Juli hingga Oktober, para peserta melakukan konsultasi bisnis, mendapatkan pendampingan dan kunjungan, serta coaching dari beberapa dosen Prodi Sarjana Manajemen UNPAR. Para dosen inilah yang menjadi narasumber saat workshop dan menjadi coach selama periode pendampingan peserta SCORE Plus.

Beberapa tema yang diangkat dalam workshop SCORE Plus seperti Berbagi Informasi, Hygiene, Budaya Kualitas, Inovasi Produk, Pembukuan, Eliminasi Pemborosan, dan masih banyak lagi. Teori-teori ini dipaparkan dalam workshop, lalu peserta diajak untuk mempraktekkannya secara langsung dalam usaha mereka dengan didampingi para coach. Dalam periode tiga sampai enam bulan setelah pelatihan, para pelaku UMKM ini diharapkan bisa meningkatkan produktivitas, kerja sama, serta komitmen pekerja terhadap perusahaan.

Elisabeth Natalia sebagai SCORE Expert Trainer dari BEDO diundang sebagai pembicara saat sosialiasi program, untuk menjelaskan apa itu SCORE Plus dan bagaimana program tersebut dijalankan. Ia memaparkan bahwa SCORE Plus adalah program untuk menciptakan UMKM yang lebih produktif, lebih kompetitif, dan lebih bersih sehingga dapat menyediakan pekerjaan yang tetap dan layak. Setidaknya ada empat target yang ingin dicapai melalui program ini, yaitu memperkuat kerja sama dan komunikasi pimpinan-karyawan, meningkatkan kualitas dan produktivitas, mengurangi limbah usaha, serta meningkatkan kondisi kerja. SCORE Plus membantu para pelaku UMKM untuk mencapai target-target tersebut dengan beberapa solusi berbiaya serendah mungkin. “Kalau bisa malah tanpa biaya sama sekali,” ujar Elisabeth.

Semangat belajar dan mau maju begitu terasa dari para peserta SCORE Plus UNPAR. Mereka yang sebagian besar tinggal di Soreang, Kabupaten Bandung, rela menempuh perjalanan sekitar 2 jam lamanya demi mengikuti rangkaian workshop yang digelar di Auditorium D3 Manajemen Perusahaan UNPAR yang berlokasi di Jalan Aceh no. 53, Kota Bandung. Dari pagi hingga sore mereka setia mempelajari materi-materi yang dipaparkan oleh para pembicara dan mengerjakan tugas-tugas yang diberikan.

Tidak hanya teori, mereka juga bisa langsung mempraktekkan apa yang telah dipelajari saat workshop ke dalam jalannya produksi di tempat usaha masing-masing. Beberapa peserta pelatihan mengaku sudah banyak mengalami perubahan positif selama menjalani SCORE Plus UNPAR. Contohnya adalah tata letak produksi yang lebih efisien dan membuat pembukuan yang lebih rapi (membedakan keuangan rumah tangga dengan produksi). “Saya pengin lebih meningkatkan lagi usaha, lebih berkembang. Ya intinya sukses lah. Dengan bekal SCORE ini saya menjadi lebih optimis usaha saya bisa berkembang lebih cepat,” kata Abah tentang harapannya setelah menjadi peserta SCORE Plus UNPAR.

Presentasi Akhir

6 November 2017 dipilih sebagai waktu Presentasi Hasil Peserta sekaligus Penutupan SCORE Plus UNPAR. Dekan FE, Prof. Dr. Hamfri Djajadikerta, Drs., Ak., MM., secara khusus datang untuk melihat hasil kegiatan yang telah dijalankan kurang lebih 4 bulan terakhir ini. Ia memberikan sambutan positif atas kesuksesan SCORE Plus UNPAR. Tak lupa Prof. Hamfri memberikan pesan bahwa meski pelatihan ini telah berakhir, bukan berarti para peserta bisa bersantai ria. Ini justru menjadi awal agar mereka semakin bekerja keras dengan modal ilmu dan pendampingan yang selama ini telah didapat dari SCORE Plus UNPAR.

Sementara dari Kabupaten Bandung diwakili oleh Sekretaris Dinas Koperasi UKM, Drs. Dedi Sutardi, MM.Pd., beserta beberapa pejabat terkait. Dalam sambutannya Dedi Sutardi mengucapkan terima kasih atas kerja sama yang telah dijalin antara UNPAR dan Kabupaten Bandung. Ia bersyukur karena melalui SCORE Plus UNPAR, perubahan nyata benar-benar terasa oleh para peserta UMKM. Baru kali ini ia melihat sebuah program pelatihan yang tidak hanya berhenti di teori saja, namun juga praktek nyata di lapangan.

SCORE Plus sendiri setidaknya telah dijalankan di tujuh kota di Indonesia. Secara internasional, program ini juga dilaksanakan di delapan negara yang di antaranya adalah China, Vietnam, Colombia, dan Afrika Selatan. Elisabeth Natalia mengingatkan bahwa Indonesia perlu bersiap untuk menghadapi perdagangan bebas antar negara, apalagi sudah dari 2016 lalu diberlakukan Masyarakat Ekonomi ASEAN. SCORE Plus ingin membantu para pelaku usaha kecil menengah untuk meningkatkan daya saing mereka, tidak hanya secara lokal dan nasional, tetapi juga di tingkat internasional.