Rawabogo Menyambut Positif SEED UNPAR 2017

Selama sepuluh hari lamanya anak-anak muda yang bergabung dalam Program Social Enterprise for Economic Development (SEED) tinggal dan menjalani kehidupan layaknya penduduk setempat di Desa Rawabogo, Kecamatan Ciwidey, Bandung. Tidak hanya sekadar tinggal bersama warga, ketiga puluh empat mahasiswa ini juga berusaha untuk membantu memperkuat perekonomian desa dengan memberikan business plan yang tepat serta pelatihan bagi warga. Dimulai pada 8 Juli hingga berakhir di tanggal 18 Juli 2017, SEED UNPAR 2017 dilaksanakan di desa berhawa sejuk dan segar tersebut.

Di tiga hari pertama mereka mengumpulkan data, melakukan survei dan wawancara kepada warga Desa Rawabogo. Mereka ingin melihat kelebihan apa yang dipunyai oleh desa tersebut. Potensi lokal adalah pijakan utama untuk berbagai ide, usulan, atau kegiatan yang akan dijalankan. Program SEED menjadikan potensi lokal sebagai dasar untuk mengembangkan kewirausahaan sosial sebagai sarana menuju kemajuan ekonomi dan peningkatan taraf hidup.

Salah satu keunikan SEED adalah terbukanya program ini untuk mahasiswa dari berbagai latar belakang budaya maupun pendidikan, serta menerima mahasiswa dalam negeri maupun asing. SEED UNPAR 2017 diikuti oleh 34 peserta. Tujuh di antaranya adalah mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR), dua datang dari Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, sementara sisanya dari Universiti Malaysia Kelantan, serta Thaksin University dan Prince of Songkla University, keduanya dari Thailand.

 

Ketiga puluh empat mahasiswa tersebut dibagi ke empat dusun di Desa Rawabogo. Usai mengumpulkan data dan melakukan survei, setiap kelompok di masing-masing dusun kemudian merumuskan berbagai ide dan usulan progam. Bahasa menjadi salah satu kendala utama selama proses ini berjalan. Sebagian besar warga Rawabogo masih kental dengan Bahasa Sunda-nya. Sementara komunikasi di antara peserta sendiri juga tidak begitu mulus karena belum fasih berbahasa Inggris. Namun kendala ini tidak menyurutkan semangat para peserta SEED untuk memberikan yang terbaik bagi warga Desa Rawabogo. Komunikasi tetap bisa dijalankan meski kadang terbata-bata atau terjadi ketidak pahaman dari masing-masing pihak.

 

Presentasi Ide

“How’s the taste, sir? Is it good?”. Begitu tanya Ratchaneekorn Thongrak, mahasiswi dari Thaksin University yang tinggal di Dusun II, Desa Rawabogo. Ia bersama kelompoknya mencoba membuat produk baru berupa es krim dan permen dengan bahan dasar tomat. Buah ini dipilih karena stok yang melimpah di dusun tersebut. Selama ini tomat hanya dijual begitu saja tanpa diolah menjadi produk baru. Tidak jarang pula buah yang kaya vitamin A ini dibiarkan membusuk karena harga jual yang terlampau rendah.

Melihat kondisi ini, peserta SEED kemudian mengusulkan ide pembuatan es krim dan permen dengan bahan utama tomat. Mereka mempresentasikan ide ini kepada ibu-ibu PKK Dusun II. Menjelaskan bagaimana proses pembuatannya dan apa saja bahan yang dipakai. Sambutan positif didapat atas ide ini. Ibu-ibu PKK yang hadir saat presentasi menyatakan bahwa es krim tomat tersebut terasa enak dan layak jual. Permen tomat juga ludes dibagikan. Anak-anak di dusun tersebut tampak menyenangi produk baru olahan peserta SEED ini.

Lain lagi dengan peserta yang tinggal di Dusun I. Mereka mengusulkan dibuatnya paket-paket wisata ke Desa Rawabogo. Hal ini mengingat Desa Rawabogo yang telah didaulat sebagai desa wisata, selain sembilan desa lainnya di Kabupaten Bandung. Mereka juga mengusulkan agar beberapa rumah warga bisa dijadikan guest house sehingga turis yang datang tidak akan kebingungan mencari penginapan. Kelompok ini juga membuat souvenir baru khas Rawabogo berupa gantungan kunci. Bentuknya mirip ikan, terinspirasi dari lambang desa tersebut. Sementara peserta SEED di Dusun III memunculkan ide pembuatan website bagi Desa Wisata Rawabogo. Hal ini didasari dari tidak adanya informasi yang menyeluruh tentang Rawabogo yang bisa diakses oleh masyarakat di luar desa maupun calon turis yang ingin berkunjung. Bagi mereka, website akan sangat membantu masyarakat luar untuk mencari informasi perihal Rawabogo. Kelompok peserta ini bahkan telah membuat prototype­-nya dan memperlihatkan bagaimana laman tersebut dijalankan. Di dalam website tersedia informasi seperti Tentang Rawabogo, Berita, Agenda Kegiatan, Produk/Souvenir, dan masih banyak lagi. Selain itu mereka juga membuat kripik singkong yang ditambah varian rasa green tea dan spicy. Rasa original juga tersedia.

Sementara kelompok terakhir yang tinggal di Dusun IV memberikan ide bisnis lain lagi. Tempat wisata Gunung Padang yang berlokasi di dusun ini dianggap sebagai daya tarik utama. Di sisi lain belum ada pusat souvenir dan oleh-oleh khas Gunung Padang maupun Rawabogo sendiri. Karena itulah muncul rencana program pembangunan toko souvenir dari para peserta SEED. Toko ini diharapkan menjadi magnet baru untuk menarik wisatawan datang ke Rawabogo, khususnya ke Gunung Padang. Selain itu, para peserta SEED juga mengusulkan program Festival Layang-Layang. Dengan kontur daerah berbukit-bukit dan intensitas angin yang cukup besar, festival layang-layang dianggap cocok untuk dijalankan. Jika program ini berhasil dilaksanakan, maka festival layang-layang di Rawabogo akan punya keunikan tersendiri karena digelar di daerah perbukitan. Sementara sebagian besar festival layang-layang yang digelar di Indonesia maupun di luar negeri memilih daerah pantai sebagai lokasinya.

Sambutan Positif dari Pemerintah Setempat

Cecep N.A. Prawira selaku Kepala Desa Rawabogo menyambut baik adanya program SEED UNPAR 2017. Ini adalah kali kedua setelah di tahun sebelumnya SEED juga dilaksanakan di desa yang ia pimpin tersebut. Cecep menganggap SEED sebagai program positif yang membantu desa dan warganya mencapai kesejahteraan yang lebih baik, khususnya di bidang ekonomi. Ia menyatakan bahwa Rawabogo butuh bantuan berbagai pihak luar agar desa tersebut semakin berkembang.

Camat Ciwidey juga menyempatkan diri untuk hadir di hari presentasi dari peserta SEED. Ia berharap program ini tetap dilanjutkan di masa mendatang dan terus menanti ide-ide segar untuk membantu meningkatkan taraf hidup warga, khususnya di Rawabogo. Antusiasme warga nampak ketika setiap kelompok peserta SEED memaparkan ide-ide bisnis mereka. Warga berharap program-program yang telah diusulkan tersebut bisa benar-benar dijalankan sehingga manfaatnya pun bisa terasa. Ide-ide yang terlontar belum pernah mereka dengar, sehingga harapan besar pun muncul atas pelaksanaannya.

 

Di malam terakhir sebelum kepulangan, Program Studi Sarjana Manajemen FE UNPAR selaku penyelenggara SEED menggelar Cultural Night di area Balai Desa Rawabogo. Para peserta SEED yang datang dari Indonesia, Thailand, dan Malaysia secara bergantian menampilkan pertunjukan khas negara masing-masing. Mereka juga memberikan kesan pesan atas Program SEED sekaligus berpamitan dengan warga Desa Rawabogo. Ratusan warga datang di acara malam itu. Suasana riang dan gembira begitu terasa meski hawa dingin sesekali menusuk. Mereka berharap keriaan ini tetap berlanjut di tahun depan.

 

X