Kompetisi Global: Transformasi Bisnis di Digital Era

Fakultas Ekonomi Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung bekerja sama dengan Politeknik APP Jakarta menggelar seminar bertajuk Economics and Business Competitiveness International Conference 2018 (Ebcicon 2018). Dengan tema besar “Global Competitiveness: Business Transformation in Digital Era”, seminar internasional ini dilaksanakan di Grand Inna Kuta, Bali, pada 21-22 September 2018.

Penyelenggaraan Ebcicon 2018 adalah bentuk dukungan Unpar, yang bekerja sama dengan Politeknik APP Jakarta, dalam menggaungkan Making Indonesia 4.0 dari pemerintah Indonesia. Menurut penjelasan Kementerian Perindustrian, Making Indonesia 4.0 laiknya sebuah roadmap yang terintegrasi untuk mengimplementasikan sejumlah strategi dalam memasuki era industri 4.0.

Seminar, “workshop”, dan presentasi “paper”
Ada tiga agenda utama dalam Ebcicon 2018. Pertama, seminar dan diskusi panel. Dalam kesempatan ini, diundang 6 pembicara untuk berbicara tentang perkembangan teknologi dan dampaknya terhadap dunia bisnis dan manajemen, serta bagaimana kita merespons agar tetap kompetitif di marketplace.

Kedua, workshop, yang fokus utamanya adalah membahas teori dan metodologi untuk bisa memasukkan paper ke publikasi jurnal ternama. Ketiga, presentasi paper. Dalam agenda terakhir ini, peserta seminar bisa mempresentasikan paper atau penelitian yang sedang atau sudah dilakukan. Peserta bisa saling bertukar ide dan mendapatkan insight baru atas paper mereka dari peserta lain.

Ebcicon 2018 dibuka secara simbolis dengan pemukulan gong yang dilakukan oleh Rektor Unpar Mangadar Situmorang PhD dan Direktur Politeknik APP Jakarta Ahmad Wimbo H SE MM, pada Jumat (21/9/2018). Acara kemudian dilanjutkan dengan seminar dengan keynote speaker Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri Kementerian Perindustrian Republik Indonesia DR Ir Ngakan Timur Antara.

Making Indonesia 4.0 menjadi tema besar yang disampaikan dalam seminar oleh Ngakan Timur Antara. Menurut dia, implementasi Industri 4.0 akan membawa peluang besar untuk merevitalisasi sektor manufaktur dan menjadi akselerator dalam mencapai visi Indonesia menjadi 10 besar ekonomi dunia pada tahun 2030. Keuntungan penerapan konsep Industri 4.0 antara lain adalah mampu menciptakan efisiensi yang tinggi, mengurangi waktu dan biaya produksi, meminimalkan kesalahan kerja, serta peningkatan akurasi dan kualitas produk. Ngakan menambahkan, ada beberapa prasyarat yang harus dipenuhi oleh industri untuk bisa memaksimalkan keuntungan tersebut secara optimal. Di antaranya, ketersediaan sumber daya listrik yang melimpah, murah, dan kontinyu, serta ketersediaan infrastruktur jaringan internet dengan bandwidth yang cukup besar dan jangkauan luas.

Selanjutnya, ketersediaan data center dengan kapasitas penyimpanan yang cukup banyak, aman dan terjangkau, ketersediaan infrastruktur logistik modern, dan kebijakan ketenagakerjaan yang mendukung kebutuhan industri sesuai dengan karakter Industri 4.0.

Sejumlah pembicara lainnya dalam seminar hari pertama, yakni Prof Lorne Cummings, PhD FCPA CA (MacQuarie University, Australia), Kazutoshi Chatani (ILO Employment Specialist), Dr Arief Gusnanto (University of Leeds), Antonius Probosanjoyo, MBA MSc (CAR Life Insurance), dan Sudimin Mina, SE AK MMSI CA CPMA (Microsoft Indonesia).

Pada hari kedua, Ebcicon 2018 diawali dengan seminar oleh Adjunct Professor INSEAD Singapura Dr. Andreas Raharso. Andreas yang juga merupakan lulusan dari Fakultas Ekonomi Unpar ini mengemukakan paper “Innovation Paradox and Knowledge Maze”. Acara dilanjutkan dengan workshopyang diisi oleh Prof Chris Patel, PhD CMA CA dan Dr Peipei Pan, keduanya dari Universitas MacQuarie Australia.

Agenda terakhir adalah presentasi paper. Sekitar 60 orang peserta seminar terbagi ke dalam lima ruangan berbeda untuk bergantian mempresentasikan paper yang sedang atau sudah dikerjakan. Kesempatan ini baik untuk peserta karena bisa saling bertukar ide dan mendapatkan insight baru dari peserta lain.

Ebcicon 2018 diharapkan bisa menjadi wadah bagi akademisi dan pelaku industri untuk ikut berperan dalam menyongsong kompetisi global, khususnya di era Industri 4.0. Berdasarkan Global Competitiveness Report 2017, posisi daya saing Indonesia berada di peringkat ke-36 dari 100 negara. Meski telah naik lima peringkat dari tahun sebelumnya, pemerintah bersama para pemangku kebijakan, asosiasi dan pelaku industri, serta unsur akademisi perlu terus didukung agar impian Indonesia menjadi pemain kunci di Asia tak hanya menjadi angan belaka.